Tuhan sudah mati
mungkin ini sebagai ketikan gak penting atau lebih tepatnya kurang ajar yang pernah saia ketik, ya semenjak om brother agus noor menulis Manchester United vs Tuhan, saia yang geblek dan goblok inih cenderung tidak bisa tidur, tidak bergairah kepada sesama jenis, tidak mau diajak nobar serta tidak mau diajak judi bola dan ngangkring!!!. Ketikan ini semata-mata lebih kepada pemuasan hasrat argumen yang melimpah ruah bergairah saia tentang itu..
tanya gue..
apakah benar permasalahan seperti ini???
*mana masalahnya de? dudulz*
emmm i mean penemuan Tuhan ituh bisa dipecahkan dengan rumus 5W1H gak sie?
*setahu saya waktu pelajaran bahasa indonesia di smu* itu loh rumus yang digunain para wartawan untuk mencari berita…
trus…???
apakah anda-anda bisa dan one hundred percent menemukan jawaban atau hanya mendapatkan sekedar pernyataan dogmatis dan absolut yang tak bisa dibantah?
absolut…???
Absolut itu artinya keberadaanya mutlak bukannya relatif
bener ndak kata-kata yang tak cetak tebal tadih?
terus apa yang anda pikirkan tentang gagasan, istilah “Tuhan” yang katanya sie merujuk pada segala sesuatu yang dianggap mutlak kebenarannya. Jadi, di dalam hal ini ilmu pengetahuan (sains) bisa saja di-”Tuhan”-kan oleh manusia. Sedang Nietzsche berpendapat tiada “Kebenaran Mutlak”; yang ada hanyalah “Kesalahan yang tak-terbantahkan”. Karenanya, dia berkata, “Gott ist tot”
Tuhan sudah mati! Tuhan tetap mati!
opo meneh iki…???
Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]?
Nietzsche, Die fröhliche Wissenschaft, seksi 125
sepengetahuan saiah banyak orang mungkin lebih senang berpikir bahwa menemukan, bertemu dengan Tuhan harus melalui media yang sudah menjadi tempat yang pasti untuk beribadah, menemukan dan berkomunikasi dengan Tuhan.mungkin juga banyak orang lebih enak berpikir bahwa tempat kita menemukan dan menyapa Tuhan harus di tempat yang suci…benarkah begitu?
yang sebenarnya perlu disadari adalah bahwa Tuhan dengan kemutlakannya tentunya tidak terikat oleh tempat dan waktu. baginya tidak dipengaruhi yang dulu atau yang akan datang. Tuhan tidak memerlukan tempat, sehingga pertanyaan tentang dimana Tuhan hanya akan membatasi kekuasaanya. Maka baginya tidak ada kapan lahir atau kapan mati.
oke thats the point..
jadi siapakah penemu Tuhan sebenarnya?
ps. no offense.
